Destiny



The wind  blows through that boring window
Making jokes of myself.

I get a sense of living from staring at the cloudy sky
What color of sky I'm looking at?
Felt like something has changed
Not so sure it were blue and clear
Or grey and soaky.

Hey, got your head out from the bored
Let us find the blue of sky!
Before everything now become past
And before that grey sky bring you out from a sunny life.

I decide faintly
At the today in my palms
Walking toward the sky's stairs with a bit of energy
Looking today as tomorrow for a beautiful destiny.

Puisi Buat Aku



Tolehlah ke belakang
Renung dengan akalmu yang panjang
Adakah hadirmu benar diundang?

Aku,
kurnia Ilahi memberi seribu erti
Buat bonda dan keluarga
Memikul janji.

Aku,
dari sebesar tiga jari
Hingga engkau di puncak tinggi
Terbalaskah budi?
Jika kejayaan ini
hanya untuk dirimu sendiri?

Aku,
sampai sudah waktunya
Engkau perlu bersemuka
Dengan kewajipanmu
Kepada bonda dan keluarga.

Aku,
Apakah nasib?
Apakah khabar?
Bonda di pinggir sana?

Aku!
Tolehlah ke belakang
Masih ada hutang
Yang wajib engkau tebus
Sebelum bonda
'dijemput pulang'

Mencintai



Mencintai persis hati ke hati
Tidak perlu bicara lisan
Sudah erti akan bahasa cinta
Menitip kala sirnanya tenang
Hadir kala wujud resah di dada
tanpa diundang datang
Pulangnya tanpa sebarang ucapan
Salam sejahtera mengiring sepeninggalan.

Harga usah dihitung
Tidak mungkin terlunas walau dunia dikorban
Mahalnya mencintai
Mahalnya merindui
Tidak bisa dijual beli.

Rindu itu sudah pasti
Rindu, seakan tidak akan hilang
Mungkin kadang perlu diungkapkan
Tetapi lebih elok dipendam
Biar mekar semekar bunga di taman
Kelak bisa dinikmati manis merindu.

Mencintai
Menyayangi
Merindui
Sepenuh jiwa
Seisi hati
Seluruh raga.

Allah Tetap Cinta!



Ketar,
Mengenang dosa silam,
Gugup,
Bakal diterimakah taubatku ini Tuhan?

Tika kaki mulai melangkah,
Menelusuri lorong tarbiyah,
Meneliti di segenap ruang,
Malu,
Melihat mereka umpama malaikat,
Sedang aku lumpur,hina,jijik.

Seringkali tertunduk,
Mengurai dosa lama,
Bertanya,
"Wahai Tuhan, apakah ada lagi keampunan?"
Terdiam,
Tuhan itu penuh berahsia,
Selaut dosa,
Segunung maksiat,
Masih tercurah rahmat.

Tadahkan doa,
Mohon padanya,
Allah tetap cinta!
"Janganlah kamu berputus asa dari rahmat-Nya. Sungguh Dia mengampuni semuanya."-[QS Az-Zumar:53]

Cinta...Kunci Rapi

Cinta..
Dikau itu fitrahnya suci
Sesuci embunan pagi
Seputih turunan salji

Cinta..
Syukran Ya Ilahi
Sesungguhnya kurniaan-Mu ini ibarat pelangi
Mewarnai segenap hidupan duniawi

Cinta..
Andai manusia itu bijak pekerti
Pastinya dikau tidak sesekali dinodai
Tentunya dikau aman di lubuk sanubari

Cinta..
Kenapa dikau selalu disalaherti?
Dituduh, dihina.. sering dicaci
Tatkala manusia terlajur diri

Cinta..
Usah dikau bersedih hati
Dikala manusia menunjuk benci
Bukan salahmu sekali-kali

Cinta..
Dikau sebenarnya penyeri
Buat kami khalifah di bumi
Juga buat anak cucu kami

Cinta..
Hapuslah air matamu di pipi
Imbaulah kembali indahnya memori
Disaat dikau penyatu kasih yang murni

Cinta..
Adakah dikau masih ingati?
Saat Adam dan Hawa menyemai kasih syurgawi
Bukankah terbukti dikau penyatu dua hati?

Cinta..
Zaman ini banyak sekali tragedi
Menarik dikau ke lembah penuh misteri
Habislah dikau andai manusia hilang pedoman diri

Cinta..
Zaman ini dikau tidak lagi selalu disanjung tinggi
Namamu hanya menjadi zikir pemuda pemudi
Peroleh kepuasan penuhi nafsu meninggi

Cinta..
Ingin sekali aku bersimpati
Namun aku sendiri serupa insani
Mungkin dikau mangsaku sejurus ini



Cinta..
Percayalah, andai aku miliki iman di hati
Dikau tidak sesekali akan aku sakiti
Kerna dikau hanya halal buat insan bernama isteri

Cinta..
Aku ini seorang lelaki
Miliki gelojak nafsu juga naluri
Semoga dikau tidak membawaku ke jalan mati

Cinta..
Aku ingin miliki seorang suri
Kalau bisa, seanggun bidadari
Namun semuanya dalam lukisan rezeki..

Cinta..
Andai suatu hari aku akan dicintai
Andai suatu masa aku akan mencintai
Sudilah engkau terbit menemani jiwa kami

Cinta..
Buat masa ini
Aku ingin sekali kau dikunci rapi
Kerna kini aku ingin menimba ilmu Ilahi

Cinta..
Sabarlah dikau buat sementara ini
Tatkala sudah tiba masanya nanti
Datanglah kembali menghiasi bahtera kasih abadi...

Hijab


Kulihat indah,
Wadah mengutip barakah,
Sehelai tudung labuh memagar mata,
Dari fitnah yang fitrah,
Dari gelodak nafsu serakah,
Nyat hijabmu suatu anugerah,
Perjuangan dalam menguji ruhiyah.

Hijabmu,
Menutup seribu kecantikan,
Menyerlah sejuta keayuan,
Pesona pada mata yang luhur,
Hina pada insan yang bingung.

Namun kerana iman dan taqwa,
Kau tetap teguh dengan segala swadaya,
Menyusun hujah di lisan demi syariat-Nya,
Biar bergugusan cemuhan menimpa wajah,
Biar pipimu ditampar tohmahan pedas,
Teguh prinsipmu didada;
"Simpankan buat yang halal sahaja,
kelak ternoda, tiada guna."

Hai Hawa,
Kau mulia,
Andai auratmu kaujaga,
Hingga akhirulkalam,
Hatimu sesuci nirmala,
Jiwamu selembut sutera,
Imanmu seteguh ancala,
Taqwamu semegah bahtera,
Dengan berkat rahmat Yang Maha Esa.

You Know?


You know?
That moment I'd knew
You gonna leave just like a dew
I don't want to cry
Just mute all my words
Maybe I'm shy
But that's not the answer for 'Why?'

In the midst of sorrowness
With all my heart
With all my might
I let you go from my side
Ignore the tears from my eyes
But I never can say goodbye
Because I still want to see
Your face in smile
Maybe someday,somewhere
Even just for a while
Hopefully.

As day by day slaint
'Waiting' is such a pain
And tears will always be born
Again and again.

Gamitan Rindu



Saat cinta mekar dihati,
Dan harapan pun subur meninggi,
Bertambah lara rindu ini,
Walau sejauh mana kau pergi,
Walau selama mana aku menanti,
Merinduimu sudah persis jati diri,
Seperti rerama liar berterbangan,
Kelak pulang.

Rindu,
Menitip rasa kasih,
Walau dimana kau berada,
Walau rindu seisi dunia,
Ikatan antara kita tetap ada,
Tetap cinta.

Rindu,
Pergilah sejauh manapun,
Namun bila tiba masa,
Pulanglah segera,
Bimbang nanti cinta jadi sangsi,
Kelak mati.

Andai setia utuh abadi,
Sungguh pasti,
Tiada curiga dihati,
Biar terpisah dek lautan,
Digoda nafsu,
Mahupun diugut pengorbanan,
Yang terpahat tak mudah tergugat,
Biar bercerai badan,
Asal lunas harapan.

Bagai Baru Bersua


Semuanya masih lagi jelas difikiran,
Suatu kenangan indah,
Bagai baru semalam kita bersua,
Dengan tenang rasa pengubat jiwa,
Bagai sekejap tadi kumelambai,
Dengan setitis rasa hiba,
Bagai memoribilia itu tidak kan luput,
Tergantung pada dinding hati.

Masih sarat di tunjang ingat,
Tanpa kembali pada empunya,
Ada debu kasih tersisa,
Sukar diterbang angin masa yang menderu pergi,
Jauh dari saraf lupa,
Abadi di corong makna.

Adakah harus ku karang seutus wacana,
Melunas segunung rindu?
Atau perlu aku berdiam dalam samar kepastian,
Melakar senyuman palsu?
Mengertilah duhai jiwa,
Rindu itu hadir dari-Nya,
Bilamana terzahir rindu,
Panjatkan doa pada-Nya,
"Ya Rabbi, sampaikan salam rinduku kepadanya dalam redha dan keterbukaan pintu fitrah."

Are We Really In Love?




I have never hold your hands so far,
Or look into your eyes to say how beautiful you are,
We have never gone out together
We have never exchange love letters together

The only means of communication between us is
Through text messages,social media and couple of phone calls,
When I tweet you,you retweet.
When I post a status on facebook,you like,
But should it be just like that?
Love an affection should be more than that.

We re in a relationship
But why do I feel like everything between us us restricted?
It feels like I’m loosing you

Exist such distance between our hearts?
And barriers since that very start
Our separation sometimes make me scared
But why,?why did you keep on reminding me,
“Let us get ourselves prepared?”

I don’t know,I don’t know
I am doubtful,are we in love?
Are we really in love?

Yes I know I am wrong,
I was just carried away,
Seeing all the ouples out there,
At the park,restaurant and movie theatre.
Caressing each other,
Oh man!how romantic!
Make me deprived of my love story.

I’ve always wanted an ideal love story like in the movies
But I need to stop and let it go
Because every rainfall must come a rainbow

I’ve got to be patient
The sweetness of happiness is always best tasted after we are tested
Yes.,you are right
We are deeply in love
Not in their assumption
But in His definition

Neither holding our hands
Not filling up our desired demands
Have defined a long relationship
But declared that bond as an abandoned ship

Following the prophet is what we should do,
Never ever give in to the feelings that are not true
True love is how we center all our love towards Al-Mighty
And prevent ourselves from entering that fiery place of severity
Love is everything that brings you closer to Allah,
And whatever brings you further from Allah is not love

I’m looking forward for that day
Our union
Our synergy as one
You will be my princess
And I will be your prince.

Ya Allah! Aku Menangis




Bila kalbu pinta cinta,
Terlintas persoalan,
Antara sementara atau selamanya,
Antara jujur atau dusta,
Antara rapuh atau setia,
Antara suka atau duka,
Antara pahit atau manis,
Antara kaca dan permata,
Yang mana cinta kita?

Laluku bingkas menghela wuduk senafas,
Hingga tamat akhir sujudku,
Dan usai doa kutadah,
Gumpal lumat segala persoalan,
Cinta?
Sisih buang...

Airmata yang bergenang,
Berat...
Lama kutahan...
Ya Allah,aku menangis...

Pedih Rindu Memanjang



Harga cinta kita semalam

Tak senilai sepatah sapa hari ini

Hambar tawar

tiada rasa tiada warna

Sejuk dingin

Tiada hangat tanpa bicara

Tidakkah kaumengerti hakikat ini?

Aku sedang memintal cinta

Aku sedang mengait bahagia

Dengan rindu segulung

Dengan cinta satu

Tajam runcing semua telus

Tak setajam hari ini

Karat besi melitupi..

Meratapi...

Mampukah aku merasa kembali...

Rasa yang dulu melengkapi

Kini menyakiti?

Atau risalah angan mindaku saja

Jawablah duhai adinda...

Jangan biarkan aku meratapi

Dalam pedih rindu memanjang...

Saat Dia Tertunduk



Terpaku dikerusi ini,
Dalam termangu disisi pena,
Sesekali memanjangkan leherku,
Memandang dirimu dari jauh,
Selang beberapa jarak dariku,
Jauh mungkin,
Dan kau hanya tunduk menyembah lantai,
Dengan wajah berselimut debu resah,gelisah,
Apakah ada sakit?
Apakah ada petir mematah ceria?
Terlintas begitu,
Buat aku sama rasa pilu...
Senyumlah walau sekali,
Walau hanya pada dinding,
Pada aku?
Andai sudi...


Hanya Untukmu



Terlihat sejalur cahaya dari balik besi ini,
Cemburu...
Sedang aku hanya menelan titis-titis nyawa sendirian,
Tiada sinar,
Kegelapan,
Malam tidak pernah hendak siang,
Mentari tidak pernah bertandang,
Dan pabila badai melewati tepian.
Busa-busa kecewa tercipta,
Cuba mengutip cebisan rasa yang tercarik dilantai,
Tidaklah mampu tertunduk,
Malu aku rasa...
Kerana pasir ada laut menemani,
Aku pula hanya sendiri,
Pasrah menempuhi hari-hari...

Sesekali terburai jua ego sang teruna ini,
Menitislah airmata bersama tangisan langit tua,
Seakan mengalukan pedih kemari,
Padahal sudah cukup pedih dihati,
Menahan rasa tak terungkap,
Hanya kerana malu...
Kini hati kian ngilu...

Dalam hiba hati dirunduk kecewa,
Malam datang tak pulang,
Mentari masih tak sudi bertandang,
Kucari sehiris keberanian demi sebongkah cinta,
Yakin masih ada sinarnya,
Dinda...
Terimalah airmata ini yang jatuh hanya untukmu...

Ya Allah! Aku Menangis Lagi


Perpisahan menjelang,
Detik yang lama tak langsung kutunggu,
Kini datang.

Saat dia melangkah pergi,
Kaki ini masih teguh berdiri,
Memandang dengan selaput kekecewaan,
Kesedihan.

Kian lama bergenang,
Kian berat kutahan,
Airmata tak tertanggung,
Saat dia telah mulai hilang dari pandangan,
Telah rebah tubuhku,
Ainun makin kabur,
Ilham kian menghilang,
Dan sekali lagi,
Ya Allah...
Aku menangis...

Kau Dimana?


Menjengah ke jendela maya
Bisu saja alam ini diselirat sepi tali temali
Kemana hilang senandung merdu burung
dan siulan angin seri semalam?
Bingung dimain lenggok teka teki
Mencari kerlip warnamu adinda
Yang kelmarin hilang di balik kabus putus
Berlalu sebening kabur mata.

Indah irama menuai badi
Senyum palsu pada bibir basi
Semai sewacana benih aksara didasar
Merenek merimbun merangkai pepatah hambar
Memujuk hati berpaling dari resah
Tidak kan hapus mahupun urai
Walau senyum bulan melingkung
Walau tawa pohon berdengung
Tak mungkin kan hilang gundah
Berpaut pada mega rasa hiba
Terkadang mampuku mencurah selaut airmata
Atau menganyam sebidang sedih
Di tabir waktu yang memisah pandangan
Ada sempadan harusku tetak
Dengan lemah jejak
Oh jasad kian lesap tersungkur hampa.

Hari ini masih belum kutemu sapa
Haus,dahaga,seksa,
Ragaku sudah basah menyongsang fitrah
Jasadku lenguh langsung kan rebah
Hatiku pincang mengeluh lelah
Atmaku cincang mendakap kesah
Menjejak bayangmu dimana
Disisi jendela cinta berbaur mimpi
Suci tanpa sangsi.