Perpisahan


Perpisahan
Kau wujud tidak diundang
Walaupun dirimu tidak berbayang
Kudratmu buat aku tumbang
Walaupun dirimu tidak bertulang
Hadirmu tetap memecah kegembiraan
Gelak tawa menjadi hiba
Airmata pengganti senyuman

Perpisahan
Janganlah kau menyapa aku lagi
Tidak mampu aku menanggung
Walau hancur luluh hati ini
Terpaksa jua aku merempuh.

Kau
Menyusul selepas pertemuan
Tiada belas kasihan
Tidak mengenal erti perhubungan
Pemutus tali persahabatan
Tak dapat dihapuskan
Namun "parutnya kan tetap kekal diingatan"

kiriman:Syamir Sahlan Sulaiman

Bersemi Untukmu


Musim bunga tak ku alami,
Mentari tak sudi menyinari,
Diri ini megah andai ada cinta suci,
Buat penenang diri dalam hati.

Namamu sering menjadi sebutan dibibir,
Kerna cintamu ingin ku miliki,
Aku tahu,
Tak mudah berputiknya cinta,
Namun demi cinta yang buta tak bermata
Kulewati hari-hari dengan doa pada-Nya untukmu..

Dan sebalik tali cinta yang kusimpul ini,
Ternyata kemas tanpa kusedari,
Aku jua kaucintai,
Walaupun diriku tak sesempurna manapun,
Itu sudah suratan yang hak.

Dalam lamunan sementara,
Tak sedar...
Akhirnya cinta terpisah,
Pabila khabar mengusik telingaku,
Kau kan pergi jauh meninggalkanku,
Sebak...

Tinggallah aku sorang diri,
Tiada lagi pendengar setia,
Tiada lagi peluah rasa,
Tiada lagi pembaca nukilan,
Tiada lagi lirikan senyuman,
Menyendiri...

Aduhai rindu, berat benar kutanggung,
Mohon kaupun sambut sama rindu ini,
Dengan keterbukaan hati,
Dan kezahiran cinta suci..

Terimalah cintaku dari jauh dengan rela hatimu,
Sanubari usah diendah,
Andai kau tahu,
Cintaku lahir sekali dalam hayat,
Yang pertama jualah yang terakhir,
Dan cintaku hanya bersemi di jiwamu

Kerinduan



Kelmarin kau berdiri
Teguh di ancala mulia
Menanti bahtera mengundang dirimu
Ke menara gading
Syurga para 'mereka'.

Hari ini dihadapan lensa
Suara masih berkudrat
Ada kemanisan pada senyuman
Ada tawa pada gurauan.

Esok hari masih dihadapan lensa
Mungkin airmata pula bertakhta
Menakluk persada jiwa
Senyum,tawa hilang tak bersisa
Riang kini melangkah era kerinduan.

Sarat resah kian meraih rindu bersenandung
Terang...
Dan saat itu
Kerinduan takkan pernah langsai.

Pungguk Rindu Bulan



Kalbu yang dini
Kalam menyendiri
Aksara menyepi
Menyapa hati
Hati berintihan kerinduan
Tersangat rindu...

Sesungguhnya atma hati ini andai kau tahu
Ingin menyapamu lagi
Ingin melihat senyummu lagi
Tak sanggup sendu dihati tersakiti
Sungguh...Aku rindu
Tak sudah
Nan gundah

Sampai bila lagi bulan?
Sampai ajal menyapa diri?
Sampai hujung pena tak lagi menari?
Kerinduan padamu bulan

Bulan, kau tak kejam
Masa yang melintang
Jarak yang memanjang
Memisah cahayamu dariku
Yang aku mampu
Menanti...
Merindu...
Kau yang satu

Rindu pada rembulan tak berhabisan.
Pungguk rindu bulan
Bulan rindu pungguk?

Sarat Resah

Tika seisi langit gundah
Bolak balik awan dijunjung bumi kian sarat menanggung resah
Telah jatuh sepelaung menghapus damai tanah
Masih tak bersedikit
Meski awan pun telah lelah
Bagai ingin terburai isinya
Namun sarat resah kian hebat menerjah

Cintaku

Hai waktu yang deras berlalu,
Jauh menyimpang ke sfera masa kini,
Mengapa harus aku dihanyut bersama,
Dan yang hanyut bersamaku pula hanya kenangan lalu,
Kenangan tiga tahun dahulu...
Pada kau yang jadi tamu mata,
Dan mata yang melahir cinta,
Sedang kau ada dia,
Pun aku berlalu berlagak sahaja,
Dengan cinta yang telah berbunga...

Cintaku padamu,
Buat tiga tahun yang tak terungkap,
Dan tika itu masih belum dalam kumenelaah,
Takdir memintas lantas menghilang resah,
Dia telah beredar dari mata,
Namun pada hatimu?
Masihku tak pasti.

Cintaku padamu,
Buat tiga tahun yang tak tercakap,
Lama aku bersandiwara dalam jiwa muda pendamba cinta,
Takdir lagi menyatu,
Kita di relung yang sama,
Kian aku cinta,
Kian aku rindu.

Cintaku padamu,
Buat tiga tahun yang terperap,
Sedalamnya kau kuselami,
Telah kukenal hati budi,
Dan aku pun kian enak memerhati,
Cinta ini kuyakin ada mentari yang sudi menyinari.

Cintaku padamu,
Kini kian bercambah bertunas sudah,
Harapnya berbuah,
Dengan lafaz cinta kuungkapkan,
Merasmi rasa hati yang terpenjara,
Aku cinta...

Hatiku Masih Disana - Medan Lama

Tergerak hati
Terarah naluri
Dilaluan agung pada sisi
Sekadar memandang kesana dari sini
Dengan senyuman dari kaki. :/

Sesekali tertawa
Barangkali ada yang bertanya
"Kau gila?"
HAHAHA!
Mungkin "YA!" jawabnya. X)

Masih terpaku disini
Dan tertawa lagi
Anak mata kukemudi
Pada bangku singgahan dulu
Kala mereka yang bernama 'teman'
Masih disisi
Namun kini
Hanya sejarah lalu yang tak mungkin kembali. :(

Hatiku masih disana
Bersama kenangan lama~ T^T